Yudi Latif: Islam dan Kebangsaan Saling Beriringan

Oleh: Azhar AP

Mataraminside.com, Palu – Jika interaksi atau hubungan intra-agama dapat dirukunkan, maka sudah pasti kerukunan nasional dapat tercapai. Ekspresi agama tidak boleh dihabisi karena Indonesia dapat maju dengan peran agama yang maksimal.

Pandangan tersebut disampaikan cendekiawan muda Yudi Latief saat menjadi narasumber pada seminar nasional pendidikan yang digelar Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah. Seminar itu mengangkat tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Berwawasan Moderasi Islam di Era Milenial”.

Yudi Latief mengatakan, Islam dan kebangsaan atau nasionalisme satu kesatuan yang beriringan. Menurut dia, keislaman dan kebangsaan ditarik dalam satu nafas.

Indonesia sebagai negara dengan berbagai suku dan etnis serta agama, sulit dibayangkan dapat dipersatukan bila tanpa peran agama. Karenanya, ekspresi agama justru harus didorong ke arah yang positif. Bahkan diperlukan militansi dalam agama.

“Tidak ada kemajuan negara, tanpa ada militansi agama,” katanya.

Namun, bukan militansi untuk saling menghabisi antarsatu dengan yang lain. Militansi agama sangat diperlukan utamanya dalam hal produktif dan baik.

Di sinilah, menurut Yudi Latif, pentingnya peran pendidikan dalam memaksimalkan militansi agama ke hal-hal yang produktif dan positif. Salah satu cara untuk membangun militansi agama yang produktif, yaitu membentuk cara pandang yang luas terhadap penganut agama.

“Kalau kita ingin moderat, maka harus memiliki cara pandang yang luas. Dengan itu kita mampu menempatkan diri kita. Hal itu karena, manusia yang radikal dikarenakan pemahaman dan berpikiran sempit,” ujar pakar Pancasila ini.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palu Muhammad Idhan mengatakan, seminar tersebut untuk menegaskan moderasi Islam. Bahwa Islam adalah agama yang bercirikan moderasi.

Idhan mengatakan, penegasan terhadap moderasi Islam penting untuk membangun kerukunan dan perdamaian, sekaligus menepis anggapan negatif terhadap Islam. “Hal ini berangkat dari fenomena yang terjadi di negara kita, yaitu adanya gerakan-gerakan ekstrem,” katanya.

Islam menghendeki untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, kata Idham, hal ini membutuhkan kecerdasan, pengetahuan, sebab tanpa pengetahuan, tidak akan dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. (Aza/Ant/Shn)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.