MATARAM INSIDE

Indonesia – Dapatkan berita terbaru tentang Indonesia. Baca Breaking News on Indonesia diperbarui dan diterbitkan di Maratam Inside

Robek timur juga membuka luka lama di Indonesia

Ada tiga pendekatan untuk film yang baru dirilis Timur Lihat. Seperti sebuah karya seni yang menghadirkan realitas secara estetis. Tetapi juga sebagai wacana publik, karena film memvisualisasikan bahkan aspek sejarah, budaya, sosial dan ideologi kehidupan manusia. Satu juga dapat fokus pada makna dan peran kedatangan film di masyarakat.

Jika karya seni Timur Disampaikan oleh Sutradara Jim Taihuttu. Ia menunjukkan karakter masyarakat pada masa kritis ketika Belanda (1945-1950) berusaha memukimkan kembali Indonesia. Tapi mungkin tanpa sadar dia menggambarkan Timur sebagai glamor, dengan gambar wanita cantik, suara Unta dan alam Indonesia. Ini mengungkapkan pandangan Orientalis, yang lebih kuat terintegrasi ke dalam otak orang Barat.

‘Durg’ mungkin adalah judul yang paling tepat untuk film ini. Lagi pula, lebih dari separuh film itu bercerita tentang Raymond Westerling, yang dijuluki ‘The Durg’, seorang veteran militer terkenal yang pernah mengatakan bahwa kepala Sukarno lebih murah daripada harga sebutir peluru. Westerling adalah alasan mengapa ratusan, mungkin ribuan warga negara Indonesia, membela kebebasan mereka.

Ulasan

Sekilas sepertinya Timur Dalam film aksi tentang Perang Vietnam tanpa Rambo. Sebagian besar peran dalam film ini dimainkan oleh aktor Barat. Selain itu, kurang dari segelintir aktor Indonesia memainkan peran sentral.

Di tengah penggambaran ‘Timur’ yang indah dan eksotis itu, film ini memperlihatkan sisi gelap sejarah sebuah negara yang dilanda kekerasan karena Belanda ingin memukimkan kembali Indonesia, tiga enam bulan setelah kehilangan kendali atas negara tersebut selama pendudukan Jepang (1942-1945). Untuk itu, Indonesia mengerahkan pemerintah Belanda dengan dalih membebaskan diri dari cengkeraman pemimpin fasis Jepang Sukarno.

Anak-anak ini tidak tahu satu hal: sebelum 15 Mei 1940, Belanda adalah negara merdeka, sedangkan Indonesia adalah jajahan Belanda sebelum pendudukan Jepang.

Di satu sisi, film ini berhasil menampilkan persoalan sejarah Belanda di akhir Perang Dunia II. Foto itu adalah Johann de Vries, anak seorang pemimpin NSP yang bekerja sama dengan Nazi. Ia pergi ke Indonesia untuk membebaskan jajahan Belanda dari cengkeraman fasisme Jepang. Sebuah paradoks yang tak terbantahkan.

Film ini memiliki perspektif Oriental yang tertanam kuat di benak orang Barat

Di sisi lain, kompleksitas sejarah Indonesia pada akhir pendudukan Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak terlihat dalam film ini. Bahkan tidak ada satu pun adegan dalam film tersebut yang memperlihatkan kehidupan perempuan Belanda, anak-anak, orang tua, dan orang Indo setelah dibebaskan dari penderitaan selama tiga tahun di kamp tahanan Jepang. Ini adalah masa yang sangat traumatis bagi mereka, dan dapat dimengerti bahwa sebagian penduduk Belanda bersikap keras terhadap film ini.

Satu-satunya adegan tentang Jepang dalam film tersebut menunjukkan seorang warga biasa (Jawa) diganggu oleh tiga tentara Jepang, dan dengan kedatangan ‘The Turk’ tentara Jepang terpaksa pergi.

Baca juga review film karya Goen van Soul: Degenerasi moral di Vietnam Belanda

Citra lain Jepang tercermin dalam pidato komandan tentara Belanda, yang mengatakan bahwa racun Jepang telah menyebar ke seluruh pelosok “koloni kita yang indah”. Laporan ini dengan jelas menunjukkan betapa sederhananya pandangan Belanda dalam hubungan antara Jepang dan gerakan nasionalis.

Penyerahan Belanda kepada Jepang pada tanggal 9 Maret 1942 menandai runtuhnya Hindia Belanda. Dalam tiga setengah tahun sejak pendudukan Jepang, gerakan nasionalis Indonesia mengalami pertumbuhan yang bergejolak. Sukarno, Hatta dan Sutton Zahrir, para pemimpin gerakan nasionalis, dibebaskan dari penjara kolonial. Sukarno dan Hatta menggunakan kesempatan itu untuk memperkuat kesadaran nasional.

Selalu ada harga yang harus dibayar untuk kebebasan, dan implikasi dari keputusan politik selalu ada. Di satu sisi, kerjasama dengan Jepang menyebabkan Indonesia merdeka. Di sisi lain, ada banyak korban Romusa (pekerja wajib Indonesia), wanita penghibur dan warga negara Belanda dan Indo-Eropa yang menggunakan kekerasan setelah proklamasi kemerdekaan.

Isu-isu sejarah Indonesia dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak terlihat dalam film ini

Seperti terlihat pada gambar, kedatangan Belanda setelah penyerahan Jepang tidak disambut baik oleh masyarakat Indonesia. Hal itu ditandai dengan anak-anak melempari truk dengan batu bersama Johann de Vries sesampainya di Indonesia.

Menganiaya orang IndonesiaMonyet‘, Atau bahkan monyet itu dipukul oleh tentara Belanda. Keras ‘monyet’ adalah bentuk rasisme yang berakar pada masa lalu yang jauh, yaitu awal kedatangan Belanda pertama di Indonesia. Orang-orang percaya siapa Kepulauan Tidak lebih dari manusia yang belum sempurna. Pandangan ini berkembang pada abad kesembilan belas dan memberikan semacam pembenaran ilmiah oleh para etnografer Eropa dan antropolog fisikawan yang menggambarkan evolusi.

Baca juga: Pahlawan dengan darah di tangan

Mimpi dan mimpi

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 menghancurkan impian para penjajah dan imperialis Belanda. Itu sebabnya Westerling datang ke timur untuk menyaksikan kemajuan mimpi indah ini.

Kedatangannya ternyata menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang terkena dampak kekerasannya.

Ketika diminta untuk menulis tentang saya Timur, saya teringat kisah guru saya, sejarawan Anhar Kongang. Ayahnya, dua kakak laki-laki dan seorang pamannya dibunuh oleh orang Barat di Sulawesi Selatan. Dia tidak pernah menuntut siapa pun atau menuntut kompensasi atas kematian kerabatnya. Menurutnya, mereka sudah menyelesaikan misi kemerdekaan Indonesia.

Timur Ini memberi kita rasa pendahuluan dari peristiwa-peristiwa ini dan membuka luka lama bagi kedua orang itu. Terakhir, film ini juga harus dimaknai sebagai cara berani menghadapi masa lalu yang menyakitkan dan penuh air mata. Demikian bobot sejarah, yang menjadi penghambat tahapan selanjutnya, yakni menuju masa depan yang harmonis.

READ  Melihat Perempuan dalam Pengelolaan Sampah Plastik: Contoh dari Indonesia