Puasa dan Tubuh Yang Tak Setuju

Oleh: Cukup Wibowo |

Dijejali oleh banyak keinginan tubuh tak ubahnya objek tanpa kesanggupan untuk menyatakan ketidaksejuan dirinya. Puasa adalah cara adil memperlakukan tubuh.

Mataraminside.com, Mataram – Bersyukurlah bila kita dikarunia tubuh yang sehat serta jiwa yang kuat. Karena dengan kesehatan yang kita miliki banyak hal yang bisa kita lakukan. Dan sebaliknya, bila tubuh sedang sakit, segalanya tak bisa kita lakukan. Pada tubuh yang sakit suasana hati (mood) juga terkena imbasnya. Selain membuat kemacetan di proses berpikir, juga membuat hilangnya kegembiraan hati.

Menyadari akan hal itu hendaknya tubuh terus terjaga di kebaikan-kebaikan yang menjadi haknya. Makin banyak asupan kebaikan yang diberikan ke tubuh, makin membuat tubuh bisa memproduksi lebih banyak kemanfaatan, tak hanya pada diri sendiri tapi juga pada orang lain.

Tapi kita memang seringkali membiarkan tubuh melakukan kesia-siaan oleh perintah keinginan yang tak disertai dengan pertimbangan apakah itu baik bagi tubuh atau sebaliknya. Melalui keinginan yang harus terpenuhi, kita seolah-olah boleh melakukan apa saja pada tubuh kita tanpa pernah membayangkan kesengsaraan atau kesakitan yang dialaminya. Sebagaimana sebuah interaksi yang tak adil, tubuh kita terhadap keinginan kita tak lebih dari objek yang tak bisa menyatakan ketidaksetujuan dirinya.

Sebagai objek, tubuh adalah penjelas yang baik dari apa yang menjadi isi pikiran dan perasaan sang subjek atau pemilik keinginan. Dengan sangat mudahnya kegembiraan atau kesedihan yang dikandung tubuh itu bisa dilihat dari mimik dan gesturnya. Tubuh yang gembira adalah tubuh yang berisi pikiran sehat dan perasaan yang adil serta penuh kasih dan sayang. Sebaliknya, tubuh yang teraniaya adalah tubuh yang harus menanggung beban keburukan oleh pikiran sesat dan keculasan yang menghancurkan rasa kasih dan sayang.

Puasa adalah cara adil memperlakukan tubuh. Bila selama tidak puasa tubuh harus bisa menerima apapun yang dijejalkan pada dirinya tanpa bisa membantah, hal itu tidak terjadi pada saat puasa dimana tubuh seperti menikmati vitamin kebaikan yang membuatnya sehat dan kuat. Tubuh menjadi lebih sehat karena terbebas dari asupan yang tak dibutuhkannya, dalam rupa makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang memenuhi keinginan tentu berbeda dengan yang  memenuhi kebutuhan tubuh.

Melalui puasa, kita melatih tubuh hanya dengan menerima kebutuhan. Dari sejak subuh hingga magrib, puasa membuat kita bisa mengosongkan keinginan. Ditambah dengan pengosongan diri akan hawa nafsu yang kerap membuat tubuh bertindak sia-sia adalah pesan lain yang juga dikandung puasa. Maha Benar Allah dengan segala perintah-Nya!

Semoga puasa kita di hari ke-27 ini makin memberi pengetahuan dan pengalaman praktek kepada kita bagaimana menyehatkan jiwa dan raga kita secara benar menurut agama.(*)

Penulis adalah Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram.

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.