Puasa dan Catatan Akhir Sebulan Kontemplasi

Oleh: Cukup Wibowo |

Pengalaman spiritual selama puasa tak pelak membuat kita sanggup mengelola diri dalam kedisiplinan dan kesabaran yang teruji.

Mataraminside.com, Mataram – Hari ini panggung besar dengan kisah yang menggambarkan pergulatan jiwa dan raga itu akan ditutup oleh layar lebar yang menandakan usainya sebuah peragaan.

Pengandaian akan panggung ini serupa halnya dengan usainya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari setelah dirinya menyentuh garis akhir. Apapun pengandaian yang kita pilih untuk menggambarkan usainya sebuah peragaan, setiap perjalanan yang memiliki durasi akan selalu memunculkan catatan-catatan. Pada setiap catatan itulah kita belajar bagaimana memaknai proses dengan berbagai impresi yang menyertainya.

Demikian halnya dengan perjalanan kita di bulan Ramadhan. Sudah sebulan penuh kita jalani bulan yang suci mulia itu dengan amalan-amalan, di antaranya shalat tarawih, shalat witir, shalat malam atau tahajjud, tadarusan Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, iktikaf dan amalan lainnya.

Dari seluruh amalan itu kita terus belajar bagaimana kita bisa mentransformasikannya dalam praktek nyata di kemudian hari seusai kita menjalani puasa di bulan Ramadhan.

Baca Juga

Pengalaman spiritual selama puasa tak pelak membuat kita sanggup mengelola diri dalam kedisiplinan dan kesabaran yang teruji. Disiplin dalam waktu, disiplin dalam tindakan untuk mana yang boleh dan mana yang dilarang dalam ketentuan puasa. Juga tentang kesabaran, kita menjadi makin terlatih untuk bisa menahan diri menghadapi godaan hawa nafsu selama berpuasa. Dua hal itu, yakni kedisiplinan dan kesabaran, pada gilirannya berefek pada meningkatnya mentalitas dan produktivitas kerja kita.

Pelajaran lainnya adalah bagaimana memaknai individualitas dan kolektivitas dalam praktek spiritualitas yang berkesinambungan. Tadarus yang semula merupakan ekspresi individual dalam memaknai ayat-ayat Illahi, tak jarang harus diselaraskan untuk menjadi harmoni yang berkesinambungan saat harus dilakukan secara berkelompok.

Demikian juga dengan sholat tarawih, bagaimana sebuah kolektivitas dalam praktek sholat berjamaah harus dijaga ritmenya. Semua tunduk pada kebersamaan, semua memiliki ukuran dan komitmen yang harus dijaga. Betapa memukaunya keberjamaahan itu bila diresapi dengan penghayatan penuh.

Makin kita mengerti kenapa banyak yang menangis saat harus berpisah dengan bulan Ramadhan, tentu karena tak ada satu pun yang bisa menjamin kalau kita bisa kembali berjumpa dengan bulan yang penuh dengan pesan kemuliaan, keberkahan, serta pengampun bagi umat manusia kecuali atas kehendak Allah, Dzat yang memiliki kekuasaan untuk seluruh jagat semesta.

Semoga di akhir puasa kita di hari ke-30 ini, himpunan catatan (kompilasi) kita atas perenungan dan penghayatan (kontemplasi) kita selama sebulan penuh bisa kita manifestasikan dalam keistiqomahan kita di waktu berikutnya.(*)

Penulis adalah Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram.

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.