Pengamat: Bom Medan tidak Berhubungan dengan Penusuk Wiranto

Oleh: Muhajir

Mataraminside.com, Jakarta – Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta, menilai aksi bom bunuh diri di Markas Polres Kota (Polresta) Medan tidak berkaitan dengan penusukan mantan Menteri Menkopulhukam, Wiranto, beberapa waktu lalu. Wiranto diserang oleh Syahrial Alamsyah alias Abu Rara saat melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten pada 10 Oktober lalu.

Riyanta berpendapat serangan teror bom bunuh diri di Medan bagian dari aksi balas dendam atas kematian pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi al-Qurayshi. Baghdadi tewas dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) pada 26 Oktober.

“Nggak ada hubungannya dengan Pak Wiranto dan Kapolri, ini hubungannya dengan kemarian Pimpinan ISIS, aksi balas dendam. ISIS di Indonesia memang menjadikan polisi sebagai sasaran,” kata Riyanta kepada Indonesiainside.id di Jakarta, Rabu (13/11).

Dia mengatakan, sasaran kelompok yang berafiliasi dengan ISIS lebih banyak menarget polisi dan tempat ibadah. “Beda dengan orang atau kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda yang lebih banyak ke simbol amerika,” ucapnya.

Riyanta mengatakan, meski beraksi sendirian, pelaku belum bisa dipastikan lone wolf atau bukan. Jika pelaku merencanakan dan melakukan sendirian maka bisa disebut lone wolf meski punya afiliasi dengan ISIS.

“Tapi kalau dia melibatkan orang lain dalam perencanaan atau aksi maka bukan lone wolf. Ada yang terhubunuh dalam organisasi seperti JAD yang masih kuat ada pula individu-individu yang menjadi simpatisan ISIS tapi tidak berorganisasi,” kata dia.

Sampai saat ini, Tim Densus 88 masih menyelidiki apakah pelaku merupakan jaringan Jamaah Ansarud Daulah (JAD) atau lone wolf (serigala penyendiri). Teroris serigala penyendiri atau aktor penyendiri adalah seseorang yang menyiapkan dan melakukan tindak kekerasan sendirian.

Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Rabbial Muslim Nasution, terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan, menyamar dengan mengenakan jaket ojek daring saat beraksi. Ia menyebut status pelaku adalah seorang mahasiswa.

“Itu penyamarannya. Statusnya mahasiswa atau pelajar,” tutur Dedi saat konferensi pers di di kantornya, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu. Status mahasiswa atau pelajar yang disampaikan Dedi tersebut merujuk pada KTP yang bersangkutan.

Mengenai bom yang digunakan masih dilakukan pengujian lebih lanjut. “Jenis bomnya masih diuji dulu. Itu apakah high atau low explosive,” tutur Dedi.(EP/Shn)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.