Mentan: Polemik Pangan Disebabkan Banyaknya Mafia

Oleh: Andryanto S |

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengakui bahwa polemik sektor pangan di Indonesia disebabkan karena banyaknya mafia yang mengeruk keuntungan.

Mataraminside.com, Jakarta – Mentan mengungkapkan mafia sektor pangan di Indonesia juga berbagai macam. Dan ini menjadi perhatian khusus pemerintah.

“Mafianya macam-macam; mafia impor, mafia beras oplos, mafia pupuk. Bayangkan, pupuk yang biasa kita berikan ke petani adalah pupuk palsu,” ujar Mentan Amran Sulaiman, kemarin.

Amran mengungkapkan bahwa selama pemerintahan Jokowi-JK sudah banyak kasus mafia pangan yang diserahkan ke pihak kepolisian. Hingga kini, tercatat ada 15 perusahaan yang masuk daftar hitam.

Lebih jauh, Amran memerinci setidaknya ada 782 perusahaan yang sedang diproses hukum dan 409 perusahaan sudah dijebloskan ke penjara.

Tidak tertutup kemungkinan, katanya, bahwa jumlah ini masih terus bertambah selama ada laporan dari masyarakat dan upaya penindakan dari Satgas Pangan.

Dari total angka tersebut, Amran menyebutkan bahwa sekitar 20 perusahaan di antaranya merupakan mafia yang memalsukan pupuk bantuan kepada petani.

“Pupuk palsu, itu kalau tidak salah ada 20-an perusahaan kami kirim penjara. Bayangkan, petani diberikan pupuk palsu, produksi petani hancur, kemudian tidak mendapatkan apa-apa dan merugi,” ujarnya.

Bukan hanya pupuk, sejumlah ekonom juga menduga mafia impor sering bermain sebagai pemburu rente dalam impor gula. Ekonom senior Faisal Basri mengungkap data mencengangkan bahwa Indonesia menjadi importer gula terbesar di dunia pada periode 2017-2018.

“Menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di dunia. Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan,” ujar Faisal.

Ekonom Faisal Basri menuding para pemburu rente meraup triliunan rupiah dari praktik impor gula sepanjang 2017-2018. Perhitungan itu didasarkan dari besarnya selisih antara harga rata-rata gula di dunia dengan harga ritel gula di Indonesia.

Faisal menjelaskan pada periode Januari 2017 hingga November 2018, harga eceran gula di Indonesia lebih mahal dari harga gula dunia. Itu berarti, jika impor gula dilakukan dan dijual di pasar domestik, selisihnya menghasilkan keuntungan yang luar biasa.

“Harga eceran gula di Indonesia 2,4 hingga 3,4 kali lebih mahal dari harga gula Dunia selama Januari 2017 sampai November 2018. Impor gula rafinasi membanjir. Pemburu rente meraup triliunan rupiah,” ujar Faisal.(*/Dry)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.