Livi Zheng Senang Filmnya Diapresiasi Warga Korea

Oleh: Norman TA |

Film “Bali: Beats of Paradise” yang disutradarainya mendapat sambutan hangat warga Korea Selatan. Diputar secara khusus di National Museum of Korean Contemporary History, dan di Observatorium Seoul Sky. Akan terus membuat film tentang Indonesia.

Mataraminside.com, Jakarta — Popularitas film “Bali: Beats of Paradise” terus berkibar di Korea Selatan. Setelah menuai pujian dari berbagai pakar film dan akademisi “Negeri Ginseng” saat diputar secara khusus di National Museum of Korean Contemporary History di Seoul, film karya anak bangsa  itu  kembali mendapat sambutan hangat  saat  diputar di Observatorium Seoul Sky, bangunan tertinggi di Korea Selatan, Sabtu lalu (26/1).

Tak ayal, sutradara film itu, Livi Zheng, 29 tahun, hingga kini dibalut rasa bangga dan bahagia. “Senang sekali bisa mempromosikan Indonesia melalui film yang aku sutradarai. Senang karyaku ditayangkan di gedung tertinggi di Korea,” ujar Livi dengan nada gembira kepada Indonesiainside.id, Sabtu (2/2).

Bagi warga Korsel, destinasi wisata Bali yang tersohor ke berbagai penjuru dunia itu memang menjadi tujuan utama turis asal Korsel jika mengunjungi Indonesia. Nah, film yang mengisahkan  perjalanan hidup Nyoman Wenten, seniman gamelan yang tinggal bersama isterinya Nanik Wenten di Los Angeles, Amerika Serikat, ini banyak menampilkan alam Bali yang indah, serta memesonanya  musik gamelan Bali sebagai pengiring ritual dan tarian adat.

Film Bali: Beats of Paradise saat diputar di Observatorium Seoul Sky. Foto: Istimewa

Maka, tak mengherankan jika masyarakat Korsel pun menyambut antusias film yang ditampilkan  melalui layar raksasa di Observatorium Seoul Sky tersebut. “Para penonton pun rela duduk di lantai dan berdiri berdesakan,” tutur Livi, sineas asal Blitar, Jawa Timur, yang kini bermukim di Amerika Serikat.

Terlebih pula,  cerita film tersebut dikemas sangat apik, melibatkan musisi terkenal, di antaranya Judith Hill, penyanyi sekaligus pencipta lagu asal California partner duet Michael Jackson, dan juga melibatkan gitaris jazz Indonesia asal Bali I Wayan Balawan.

Tak urung CEO Lotte World, perusahaan induk Seoul Sky, Mr. Park Dongki,  dibuat kagum dan terpukau dengan suguhan kebudayaan Bali yang ditampilkan di film yang digarap selama satu tahun itu.

“Saya sangat terkejut bahwa musik tradisional bisa berkolaborasi dengan musik modern. Perpaduan antara keduanya menghasilkan musik yang sangat menakjubkan. Saya membayangkan bila seandainya gamelan dapat dipadukan dengan K-POP, sepertinya akan menghasilkan karya yang hebat,” ungkap CEO Park.

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi yang juga turut berperan dalam produksi film ini saat  masih bertugas di Los Angeles,  juga menyatakan sukacitaannya bahwa film itu dapat ditayangkan di salah satu bangunan ikonik di Korea Selatan yang juga menjadi simbol kebesaran dan modernitas negara tersebut.

“Saya berharap semakin banyak masyarakat di dunia internasional, khususnya di Korea Selatan yang mengetahui dan mengapresiasi gamelan, seiring dengan masyarakat Indonesia yang menyukai K-Pop,” ujar mantan Konjen RI di Los Angeles ini.

Observatorium berlantai kaca tertinggi di dunia
Sebenarnya terdapat banyak observatorium di pusat Kota Seoul. Namun tidak ada yang bisa memberikan pengalaman unik seperti di observatorium di Seoul Sky. Tempat ini tercatat di Guinness World Record sebagai observatorium dengan lantai kaca tertinggi di dunia. Observatorium ini dimulai dari lantai 117, namun pemandangan yang mencengangkan  dapat dirasakan di Sky Deck di lantai 118.

Dari ketinggian ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan  seluruh kota yang dibelah Sungai Han.  Bahkan Kota Songdo dan Incheon yang jauh dapat terlihat ketika hari sedang cerah. Selain dinobatkan observatorium berlantai kaca tertinggi di dunia, Seoul Sky juga mencatatkan diri sebagai Double Deck Elevator tertinggi sekaligus tercepat di dunia.

Livi Zheng (kanan). Foto: Istimewa

Tempat ini menakjubkan sekaligus  menakutkan karena lantai kaca transparannya  yang  membuat jatung berdegub lebih kencang, terutama bagi yang takut ketinggian. Nah, di ketinggian dan penuh sensasi inilah film “Bali: Beats of Paradise” disuguhkan bagi pengunjung yang membayar tiket masuk Seoul Sky berkisar 27.000 Won – 50.000 Won atau  sekitar Rp. 345.000 hingga Rp640.000.

Livi Zheng menuturkan, pembuatan film ini tak lepas dari keinginannya untuk semakin memperkenalkan  gamelan ke dunia internasional. “Film ini secara khusus mengangkat gamelan yang sebenarnya  sudah dipakai menjadi musik di beberapa film Hollywood, seperti Avatar dan Star Trek, juga game nintendo Super Mario Bros,” ujar perempuan yang pernah bermukim di Beijing, Cina, ini.

Film “Bali: Beats of Paradise” sempat menjadi sorotan media internasional. Film yang diputar perdana di Academy of Motion Picture Arts and Sciences, Samuel Goldywn Theater awal November tahun lalu, dan sempat pula diputar di Walt Disney Animation Studios, ini menjadi salah satu film yang masuk seleksi nominasi Oscar untuk film dokumenter. Beberapa film yang menjadi pesaing,  di antaranya ‘The Bleeding Edge’, dokumenter karya Netflix, hingga ‘Breaking Point: The War for Democracy in Ukraine’ tentang revolusi negara Ukraina menghadapi invasi Rusia.

Menurut  Livi Zheng, setelah sukses dengan film “Bali: Beats of Paradise”, ia bertekat akan terus membuat  film-film tentang Indonesia. “I will keep making films about Indonesia. Sekarang saya dan tim sudah syuting di Sumatra, Jawa dan Bali. We will continue to film in other parts of Indonesia. Indonesia is such an amazing country,” ucap Livi. (TA/INI-Network)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.