KKB Bakar Sekolah di Puncak, 300 Sisiwa Diliburkan

Oleh : Achmad Syaiful |

Mataraminside.com, Puncak – Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, telah membakar 24 rumah warga. Bahkan, gedung Sekolah Dasar Inpres Tagaloa dan sekolah unggulan juga menjadi sasaran KKB, pada akhir September lalu.

Bupati Puncak, Willem Wandik, sangat menyayangkan aksi kelompok bersenjata yang pembakaran gedung sekolah di wilayah Puncak. Dia pun mempertanyakan model perjuangan kelompok bersenjata yang ada di wilayahnya.

“Perjuangan model apa ini, harusnya sekolah dijaga karena ini menjadi tempat pendidikan generasi masa depan Puncak. Saya harap  ini kejadian yang pertama dan terakhir di Puncak,” tegas Willem Wandik usai meninjau rumah dampak teror KKB di Ilaga, Senin (7/10).

Menurut Willem Wandi, SD Inpres Tagaloa merupakan sekolah rujukan terbaik di Puncak yang merintis lahirnya generasi emas di wilayahnya. Pemerintah Puncak pun berencana akan memindahkan kegiatan belajar mengajar siswa sekolah tersebut ke gedung milik sekolah lainnya.

“Untuk sementara anak-anak sekolah akan dipindahkan sementara ke gedung sekolah dalam kota sambil menunggu pembangunan gedung yang baru,” tuturnya.

Kepala Sekolah SD Inpres Tagaloa, Yance Kogoya mengaku sangat sedih dengan ulah KKB di Puncak. Selain kehilangan tempat mengajar, para guru pun mengungsi ke  wilayah Timika karena ketakutan dengan teror kelompok bersenjata.

“Adoh saya sedih sekali, anak – anak murid jadi korban, teman – teman guru jadi takut ada yang mengungsi ke Timika terpaksa sekolah kami kasih libur sementara sampai kondisi benar benar kondusif baru lanjutkan sekolah,” kata Yance.

Yance menguraikan, SD Inpres Tagaloa memiliki 300 siswa dengan jumlah total enam ruang kelas. Dia mengkhawatirkan nasib 21 siswa kelas 6 yang tengah menyiapkan diri memasuki ujian nasional 2020 mendatang.

“Sekolah ini memiliki 300 lebih murid terhitung dari kelas 1- 6.  Sementara ini kelas 6 berjumlah 21 murid, mereka terpaksa tidak bisa sekolah dengan baik padahal tengah bersiap memasuki ujian nasional,” tuturnya sedih.

Saat ini, kata Yance, pihak sekolah masih berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Puncak untuk mencari solusi bagi ratusan siswanya.”Mudah-mudahan ada solusi. Sementara sekolah gabung ke SD lain atau bagaimana yang utama kami ingin proses pendidikan kembali jalan,” harap Yance. (Asi/Shn)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.