Kala Ayah Sang Kuli Bangunan Gantikan Putrinya Diwisuda Tanpa Toga

Oleh: Eko Densa |

“Waktu dipanggil dan diserahkan ijazah ini, jiwa saya merasa hilang. Gak bisa bilang apa-apa. Sangat terharu, air mata saya akhirnya keluar.”

Mataraminside.com, Aceh – Kehadiran orangtua dalam acara wisuda anaknya seharusnya menjadi sebuah kebahagian. Namun, tidak untuk ayah bagi seorang mahasiswi Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh.

Di antara deretan mahasiswa dan mahasiswi yang mengantre untuk mengambil ijazah di panggung, muncul seorang pria dengan pakaian biasa, tanpa pakaian bertoga. Dia hanyalah seorang kuli kasar. Mendadak seisi ruangan hening dan tercengang.

Pria itu ternyata orangtua yang menggantikan putrinya yang telah tiada sebelum prosesi wisuda. Suasana haru sontak menyelimuti seisi ruangan Auditorium Prof Ali Hasjmy, Darussalam.

Laki-laki tersebut bernama Bukhari, orangtua Rina Maharami (23 tahun), mahasiswi yang telah dipanggil Sang Khalik karena mengidap tipes tahap tinggi berlanjut menyerang saraf.

Rina meninggal dunia 5 Februari 2019, sepuluh hari kemudian usai menjalani sidang skripsi.

Momen yang tak biasa itu harus dilalui Bukhari. Jiwa tegar yang dimilikinya menjadi inspirasi ratusan wisudawan di sana.

Kepada INI Network, Bukhari mengutarakan perasaan campur aduknya saat menghadiri acara wisuda tanpa ditemani anak sulungnya, Rina. Tangisnya tak mampu ia bendung.

“Waktu dipanggil dan diserahkan ijazah ini, jiwa saya merasa hilang. Gak bisa bilang apa-apa. Disaat almarhumah meninggal, saya tidak menangis, tapi waktu saya selesai mengambil ijazahnya kemarin, saya tak tahan menahan rasa haru, air mata saya akhirnya keluar,” ujar Bukhari dirumah duka, Desa Cot Rumpun, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (28/2/2019).

Awalnya, kehadiran Bukhari di acara wisuda yang digelar, Rabu (27/2/2019) kemarin, atas permintaan teman-teman Rina dan juga dosen pembimbingnya.

Sahabat Rina beberapa hari sebelum acara sempat menghubunginya untuk menanyakan siapa yang bakal mengambil ijazah Rina. Begitu pun juga pihak kampus.

Dosen Rina bahkan menyarankan agar pria yang berprofesi sebagai kuli bangunan itu bisa hadir pada acara bersejarah bagi mahasiswa tersebut.

Atas saran dari orang-orang terdekat, akhirnya Bukhari memantapkan hati untuk hadir bersama adiknya Rina.

“Minat saya mau ambil ijazah ini untuk kenang-kenangan saya, karena dia (Rina) sudah berbuat terbaik untuk keluarga, dan dia sudah berusaha. Sejak kecil kita didik, kalau bukti keberhasilannya ini tidak diambil kan sayang juga. Makanya saya punya minat untuk ambil ijazah dia buat kenang-kenangan saya semasa hidupnya,” ungkap Bukhari dengan tegar.

Bukhari menceritakan, anak pertama dari empat bersaudara ini merupakan anak yang baik dan tidak pernah sekalipun menyusahkan orang tua. Keseharian almarhumah dihabiskan untuk belajar dan membantu orang tua.

Rina adalah anak yang berprestasi. Sejak sekolah dasar hingga kuliah, ia selalu mendapat peringkat dikelasnya. Dari kegigihan tersebut, dia kuliah mendapatkan beasiswa.

Jika musim tanam padi tiba, disela-sela kuliahnya, dia membantu ibunya ke sawah untuk bercocok tanam padi. Malamnya, dia menimba ilmu di dayah membaca kitab.

“Rina itu anaknya pintar. Bahasa Inggris dan Jepangnya sangat lancar. Kalau tidak kuliah, dia mengajar ngaji anak-anak di balai pengajian depan rumah dan jadi guru ngaji panggilan. Malamnya dia ngaji di dayah. Kalau mulai musim sawah, dia bantu ibunya kesawah,” sebut Bakhtiar.

Bukhari melanjutkan, semasa menjalani pendidikan kuliah, Rina sempat minta kepadanya untuk berhenti sekolah. Pasalnya, kata Rina, pendidikan kuliah hanya semata mengejar dunia, bukan akhirat.

Rina merasa minder kepada adik-adiknya yang banyak menghabiskan waktu belajar tentang agama di dayah. Baginya, yang dapat menolong dia dan keluarganya kelak di akhirat adalah ilmu agama.

“Dia tidak sanggup lawan adiknya yang lumayan kuat agamanya. Kalau adiknya gak pikir duniawi. Jadi untuk mengimbanginya, selain kuliah dia mengejar agama. Dia pernah bilang, jika sudah lulus kuliah dirinya mau nikah atau masuk dayah lagi,” ujar Bakhtiar yang didampingi ibunda Rina, Nurbayani.

Ibunda Rina pun berbagi cerita tentang kisah almarhumah di lingkungan keluarga. Dia tidak membayangkan anak pertamanya bisa duluan menghadap sang pencipta.

“Anak saya itu (Rina) mandiri sekali. Kalau tidak kuliah dia bantu saya ke sawah. Nanti hasil dari sawah dia pakai untuk kebutuhan hidupnya. Ada juga dia dikasih upah sama orang dari hasil ngajar ngaji,” cerita Nurbayani dengan raut wajah sedih disusul matanya yang berkaca-kaca.

Ayah Rina melanjutkan, almarhumah pernah mengucapkan satu kalimat yang hingga hari ini dianggap jadi firasat terakhir Rina kepadanya.

Rina pernah bilang gini kepada adiknya yang telah berstatus tunangan, “Dik, kakak gak mau lihat adik nikah duluan, kalau adik duluan nikah kakak mau ke Malaysia, gak balik-balik lagi.”

“Ternyata itu pesan Rina meninggalkan kami semua,” tukas Bakhtiar yang berencana menikahkan adiknya Rina pada bulan Juni mendatang.

Tapi, Bakhtiar mengungkapkan, apabila Rina panjang usia, selepas kuliah nanti, dia bakal menikahkan Rina sebelum acara resepsi adiknya. Katanya, ada pemuda yang berani meminang Rina kepadanya.

“Almarhum itu gak pernah pacaran. Ada empat pria yang ingin melamarnya dan langsung menikahinya, tapi sepertinya ada satu yang sesuai kriterianya. Andai anak saya panjang umur, dia duluan yang saya nikahkan, kalau bisa berbarengan sama adiknya,” tukasnya.

Seperti diketahui, kisah haru tersebut berawal dari unggahan dalam video akun Instagram resmi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (27/2/2019) kemarin. Terlihat ayah almarhumah mengambil ijazah Rina dihadapan rektor serta para dekan dengan memakai kemeja abu-abu, celana kain coklat dan peci hitam.

Video itu pun kemudian menjadi viral hingga telah ditonton lebih dari 200 ribu tayangan dan mendapat beragam komentar dari netizen yang terharu melihatnya. (Eko/Aza/INI-Network)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.