Baiq Nuril: Kasihan Anak-Anak Saya

Oleh: Muhajir |

Mataraminside.com, Jakarta – Pekan-pekan ini, media diramaikan oleh sosok Baiq Nuril yang mengajukan amnesti kepada Presiden Jokowi. Baiq Nuril sebelumnya staf tata usaha (TU) SMAN 7 Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi korban pelecehan seksual tapi divonis bersalah oleh Mahkamah Agung (MA).

Baiq Nuril dijerat dengan UU ITE dan divonis MA hukuman 6 bulan penjara serta denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan, meski pada tingkat pengadilan negeri telah dinyatakan bebas. Artinya, usahanya lepas dari jeruji besi kandas setelah MA menolak peninjauan kembali (PK) terhadap kasusnya.

‘’Sebenarnya saya tak ingin menjadi konsumsi publik karena bagaimanapun anak-anak saya pasti menonton dan tak ingin melihat ibunya menangis,’’ curhat Baiq Nuril dalam sebuah diskusi di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (10/7).

Meski merasa risih jika dirinya terus menjadi perhatian publik, namun dia mengaku tak ingin berhenti memperjuangkan keadilan. Dia yakin kebenaran dan keadilan pasti akan terjadi. ‘’Saya tidak ingin ada lagi yang seperti saya, saya tidak ingin bagaimana pedihnya meninggalkan anak-anak walaupun hanya 2 bulan 3 hari,’’ kata dia sambil menahan kesedihan karena meninggalkan anak-anaknya.

Dia menyebut sangat berat untuk datang ke Gedung DPR RI. Bukan tanpa alasan, sebagai seorang ibu, dia sangat ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.

‘’Dengan berat juga saya harus ke sini meninggalkan anak-anak yang harusnya saat ini harus saya rangkul dengan kondisi yang seperti ini, tetapi saya yakin perjuangan ini akan berakhir dengan baik,’’ katanya.

Dia kemudian berharap kepada wakil rakyat yang saat ini duduk di Parlemen untuk mempertimbangkan keadilan untuk dirinya. Semua itu, demi anak-anaknya. ‘’Karena bapak adalah wakil rakyat, saya hanya rakyat kecil yang hanya ingin membesarkan anak-anak saya untuk mencapai cita-cita mereka,’’ kata dia.

Kasus Baiq Nuril bermula saat ia menerima telepon dari kepala sekolah berinisial M tempat ia mengajar. Kejadian itu pada tahun 2012 silam.

Dalam perbincangan itu, Kepsek M bercerita tentang hubungan badannya dengan seorang wanita yang juga dikenal Baiq Nuril. Merasa dilecehkan, Baiq Nuril pun merekam perbincangan itu.

Tiga tahun kemudian, tahun 2015, rekaman tersebut tersebar luas di masyarakat Kota Mataram. Kepsek M pun merasa malu dan geram dengan Baiq Nuril.

Kepsek M lalu melaporkan Baiq Nuril ke polisi atas tersebarnya rekeman itu. Kepsek menuding Baiq Nuril telah membuat malu keluarganya.

Baiq Nuril pun menjalani proses hukum hingga persidangan. Kendati begitu, Hakim Pengadilan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) memvonis bebas Baiq Nuril. Namun, jaksa mengajukan banding hingga tingkat kasasi.

Mahkamah Agung (MA) kemudian memberi vonis hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp500 juta karena dianggap melanggar Pasal 27 Ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11/2008 tentang ITE. Baiq Nuril kemudian mengajukan PK.

Namun, dalam sidang PK, MA memutuskan menolak permohonan PK Baiq Nuril dan memutus Nuril harus dieksekusi sesuai dengan vonis sebelumnya.(Sid/EPJ/INI Network)

Berita Terkait Lainnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.